Tangsel (MKnews)-Sekolah Negeri yang pembiayaanya diberikan oleh pemerintah sepatutnya dipergunakan untuk kepentingan umum dan tidak untuk kepentingan pribadi.

Namun, tidak demikian yang terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pamulang Permai. Ruang kelas yang seharusnya dijadikan ruang belajar siswa, dimasa pandemi dimana siswa belajar melalui proses Daring, sebagian guru SDN Pamulang Permai menggunakan ruang kelas untuk menyelenggarakan kegiatan les berbayar.

Menurut penuturan orang tua siswa bahwa les berbayar diadakan 1 jam – 2 jam menggunakan ruang kelas sesuai kelas siswa itu sendiri.

“Ya ada les tambahan di Sekolah. Dari awal masuk udah ada les. Yang ngadain guru kelasnya masing-masing,” ungkap orang tua yang minta namanya tidak dosebutkan.

Baca Juga  SMKN 6 Tangsel Sembelih 6 Ekor Kambing

Ketika kebijakan Pemerintah Daerah mengizinkan pembelajaran tatap muka dengan ketentuan waktu. Namun tidak demikian dengan jadwal les yang diselenggarakan oleh sebagian Guru di SDN Pamper ini.

“Sebelum adanya pembelajaran tatap muka ini tetap ada les setiap hari. Setelah ada PTM ya tetap ada les. Anehnya kalau PTM hanya 1 jam belajar di Sekolah. Kalau untuk lesnya bisa 1,5 jam – 2 jam, aneh banget kan?,” tambah orang tua siswa.

Penyelenggaraan les berbayar ini cukup membuat orang tua siswa khawatir. Pasalnya jika tidak mengikuti les yang diadakan oleh guru maka khawatir nilai anaknya akan menjadi jelek.

Baca Juga  Babinsa Koramil 1705-06/Moanemani Bentuk Karakter Siswa SD Yapis Al-Khautsar Melalui PBB Dan Wasbang

“Dimasa kaya gini kadang bingung. Bayarnya perbulan kurang dari 100 ribu sih tapi tetap aja di kondisi kaya gini lumayan juga. Apalagi ribet kalau harus bolak-balik ke Sekolah anter jemput les nya. Kalau nggak les ntar nilainya takut jadi jelek,”beber orang tua siswa yang merasa tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang diinginkan walikelas anaknya.

Selain itu, ungkapan lain diceritakan orang tua berbeda bahwa untuk dikelas anaknya les yang diselenggarakan guru dikelas anaknya ini mematok biaya 10 – 20 ribu untuk biaya les perkedatangan.

Baca Juga  Dinas Pendidikan Gelar Gebyar Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan PKHP dan Desa Vocasi

“Katanya sih buat tambahan. Tapi belajarnya ya gitu-gitu aja. Kalau lesnya di luaran dimarahin ga boleh. Ini aja lagi PTS kita masih tetap disuruh les. Bayarnya sih ga seberapa perkedatangan aja. Dari pada ribet,” sesal orang tua murid lagi saat diwawancara ketika sedang mengantar anaknya les Kamis (23/9)

Keresahan seperti ini bagi sebagian orang tua murid yang menyekolahkan anaknya di SDN Pamper bukanlah hal baru. Kegiatan les berbayar menggunakan fasilitas Pemerintah sudah ada sejak lama.

sementara pihak Arsin selaku kepala Sekolah SDN Pamper saat dimintai keterangan melalui telphone celullar tidak menjawab.(DP)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *