Kabupaten Tangerang (MKnews)-Sejumlah pelanggan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Kerta Raharja (TKR) Kabupaten Tangerang, mengeluhkan melonjaknya tagihan pemaikaian air.

Kenaikan tagihan tersebut bahkan ada yang mencapai hingga sepuluh kali lipat dari biasanya. Meski, volume pemaikaian air hanya dalam satu bulan terbilang normal.

” Tagihan naik sepuluh kali lipat, biasanya sekitar 25 sampai 30 ribu rupiah per bulan, kemaren jadi 300 ribu. Pemakaian airnya jadi naik jauh, padahal digunain kayak biasanya dirumah, buat mandi doang mesin cuci ngga dipake tapi aneh keterangan pemakaian jadi banyak,” kata Achmad Zahir, warga perumahan Bugel Residence Karawaci, melalui pesan Whatsapp, Kamis (4/11).

Hal serupa juga dialami oleh Yulia, warga Regency Pasar Kemis, yang pada dua bulan lalu, besaran tagihannya juga mencapai 300 ribu rupiah.

Baca Juga  Kapolres Wonogiri Perintahkan Anggota Turun Langsung ke Bencana Longsor

Pada waktu itu, Yulia pun sempat mengajukan keberatan ke kantor Perumdam TKR, dimana akhirnya menejemen Perumdam TKR memberikan kebijakan dengan mengurangi jumlah tagihan menjadi 185 ribu rupiah.

“Tetap aja mahal kan! Tapi gua bayar aja, abis ngeri diputus, entar kaga punya air gua. Baru tuh dua bulan kemudian jadi normal lagi, soalnya petugasnya udah ngecek meteran,” katanya.

Sementara, Kepala Sub bidang Komunikasi dan Eksternal, Mat Yunis Subchan, melalui pernyataan resminya via pesan Whatsapp, yang kemudian dapat disimpulkan bahwa lonjakan tarif air disebabkan oleh adanya kebijakan penyesuaian pelayanan kepada pelanggan akibat adanya kebijakan dimasa pandemi Covid-19 terhitung sejak 1 April 2020.

Penyesuaian pelayanan tersebut, salah satunya berupa pengehentian pembacaan meteran air oleh petugas Perumdam TKR ke rumah atau lokasi keberadaan pelanggan.

Baca Juga  Babinsa Koramil 1703-01/Enarotali Sosialisasikan Penerimaan Calon Prajurit TNI-AD Di SMAN 1 Enarotali

Hal tersebut mengakibatkan, volume pemakaian air oleh pelanggan, didapat berdasarkan taksiran pemakaian rata-rata selama tiga bulan (Januari, Februari, dan Maret 2020).

Kemudian, dari taksiran pemakaian air rata-rata itu, akhirnya terdapat selisih dengan pemakainan sebenarnya pada meteran air. Lalu, selisih tersebu, dipastikan tidak tercatat dan tidak tertagih selama pandemi berlangsung.

“Selisih itu terus terjadi setiap bulannya, sampai akhirnya dilakukan pencatatan meter air secara langsung ke rumah atau lokasi pelanggan oleh petugas pencatat meteran di bulan Januari 2021 ini. Sehingga didapatkan angka sesungguhnya sesuai yang tertera di water meter,” kata Mat Yunis.

Lebih lanjut, kata Yunis, pada saat angka meteran air sesungguhnya dimasukan ke sistim billing, maka seluruh selisih antara angka taksiran rata-rata dengan angka meteran sebenarnya, dari bulan April 2020 sampai Januari 2021 terakumulasi pada tagihan di bulan Februari 2021.

Baca Juga  MELALUI KOMSOS, BABINSA YAPSEL TINGKATKAN SINERGI DENGAN APARAT KAMPUNG AROMAREA

“Contoh, jika sisa angka taksiran yang belum terbaca setiap bulannya 5 m3 jika dikalikan 10 bulan maka akan didapat pemakaian 50 m3. Inilah yang menjadi pertanyaan pelanggan dimana setiap bulannya biasa membayar untuk pemakaian 10 m3 saja, tapi di bulan Februari ini melonjak menjadi 50 m3,” ungkapnya.

Untuk diketahui, tarif air Perumdam TKR mengacu pada Peraturan Bupati Tangerang nomor 07 tahun 2009 tentang tarif air minum dan biaya lainnya pada Perumdam TKR Kabupaten Tangerang.

Disisi lain, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 71 tahun 2016 tentang perhitungan dan penetapan tarif air minum, pada Pasal 25 ayat (1) menyebutkan bahwa Kepala Daerah menetapkan tarif air minum paling lambat bulan November setiap tahunnya. (Heri/red)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *