Wonogiri (MKnews)-Bupati Wonogiri Joko Sutopo memberikan penghargaan kepada tujuh lurah dan kepala desa yang berhasil menekan dan menurunkan jumlah balita stanting dan prevelensi stanting pada anak tahun 2021 di wilayah masing masing. Penyerahan penghargaan tersebut bertepatan dengan acara Rembug Stunting Kabupaten Wonogiri di rumah dinas Bupati, Selasa (16/11).

Ketujuh desa/kelurahan tersebut masing-masing berhasil menurunkan jumlah balita stunting sebanyak 42 kasus di Desa Kerjo Lor Kecamatan Ngadirojo, 34 kasus di Kelurahan Gesing Kecamatan Kismantoro, 30 kasus di Desa Mangunharjo Kecamatan Jatipurno, 28 kasus di Desa Boto Kecamatan Jatiroto, 24 kasus di Desa Pesido Kecamatan Jatiroto, 23 kasus di Desa Randusari Kecamatan Slogohimo, dan 23 kasus di Kelurahan Jatipurno Kecamatan Jatipurno.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Wonogiri Joko Sutopo berbagi strategi bagaimana upaya Pemkab Wonogiri menekan dan menurunkan prevelensi stunting.

Menurut Bupati, ada tiga hal utama yang dilakukan pemkab Wonogiri, yakni pendataan, pengalokasian anggaran, dan integrasi seluruh stakeholder.

Baca Juga  Bersama TNI, Polwan Polda Banten Ajak Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan

“Bicara angka dan prevelensi stunting berarti kita bicara data. Data ini menjadi sangat penting, manakala proses pendataannya benar, pengolahan datanya benar, makan akan melahirkan kebijakan yang tepat sasaran,” ujar Bupati.

Terkait kebijakan pengalokasian anggaran, Bupati menyebutkan bahwa keberpihakan anggaran akan mendukung program-program Pemkab dalam penanganan stunting. Salah satunya di Desa Kerjo Lor Kecamatan Ngadirojo yang berhasil menurunkan angka balita stunting tertinggi di kabupaten Wonogiri. Desa kerjo Lor mengalokasikan anggaran sebesar Rp572.465.000 pada tahun 2021 untuk berbagai Program Konvergensi Penurunan Stunting, di antaranya air bersih, jamban sehat, PMT, PPKBD, Kader Jumantik, Penyelenggaraan, Pengadaan Sarana Prasarana dan Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu. Di tahun 2022. Desa Kerjo Lor mengalokasikan anggaran sebesar Rp453.795.000 untuk keberlanjutan kegiatan tersebut.

Strategi yang terakhir terkait dengan integrasi program kegiatan penurunan stunting. Bupati mengajak semua elemen untuk terlibat dalam upaya penurunan stunting, seperti dinas terkait, kecamatan, desa/kelurahan, das fasilitas layanan kesehatan untuk menggencarkan sosialisasi dan edukasi stunting.

Baca Juga  Walikota Arief : BOR RS di Kota Tangerang Capai 52,54%

“Bahkan tidak hanya aparat pemerintah yang harus bergerak, kami juga mengupayakan penanganan kolektif agar masalah stunting ini menjadi beban bersama yang harus ditangani sebagai prioritas. Perlu dibangun komunitas peduli kesehatan, sudah ada komunitas wanita tani yang hasil tanamannya dapat memenuhi kebutuhan gizi harian. Kami juga menginstruksikan setiap desa untuk mengalokasikan dana desa sesuai nomenklatur yang ada, dan wajib melakukan sosialisasi dan edukasi terkait urgensi kasus-kasus stunting,” terang Bupati seperti dikutif dari laman  Web wonogirikab.go.id/red .

Bupati merasa tingginya kasus stunting di Kabupaten Wonogiri disebabkan oleh angka kemiskinan. Maka menurutnya, salah satu hal mendasar untuk menurunkan stunting adalah dengan menurunkan angka kemiskinan. Kemiskinan di Kabupaten  Wonogiri masih berada di angka 10 persen, dan berdasarkan data penimbangan serentak Bulan Februari tahun 2021, tercatat sebanyak 5.222 balita terdiagnosa dalam kondisi stunting atau sebesar 14,07 persen dari total seluruh balita di Kabupaten Wonogiri.

Baca Juga  Rumah Singgah Covid-19 di Tutup, Dandim Dapat Piagam Penghargaan

Meski demikian, pihaknya optimis mampu menurunkan angka stunting menjadi nol persen (zero stunting) dengan program yang telah disusun, salah satunya adalah Program Bumilitase (Ibu Hamil dan Balita Makan Sehat) yang digawangi oleh Dinas Kesehatan dan TP PKK Kabupaten Wonogiri.

Sebagai tambahan informasi, stunting sendiri adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya, Di Indonesia, kasus stunting masih menjadi masalah kesehatan dengan jumlah yang cukup banyak. Hal ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dengan manifestasi kegagalan pertumbuhan (growth faltering) yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.

Kekurangan gizi pada masa janin dan usia dini akan berdampak pada perkembangan otak, rendahnya kemampuan kognitif yang akan mempengaruhi prestasi sekolah dan keberhasilan pendidikan, Dalam jangka panjang, kekurangan gizi pada awal kehidupan akan menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat. (*)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *