28, Oktober, 2020

Media Kreasi News

Sarana Komunikasi Dan Informasi Masyarakat

Gelombang Dukungan Pilkada Untuk Kader Internal PDIP Kembali Mengemuka

 Tangsel (MK)-Letupan dan gelombang aspirasi dukungan agar kader internal PDI Perjuangan (PDIP) direkomendasikan dalam Pilkada Tangsel 2020 kembali mengemuka. Ibarat bisul yang sudah mulai pecah, hari ini Senin (15/6/2020) giliran beberapa PAC PDIP Tangsel menyampaikan petisi.

Setelah pada Senin lalu (8/6/2020) perwakilan pengurus mulai dari tingkat PAC, ranting, dan anak ranting PDIP se Kecamatan Pondok Aren dan Kecamatan Serpong Utara, serta relawan dan kader se Kecamatan Pamulang, kali ini, perwakilan jajaran pengurus PAC, ranting, kader, dan simpatisan PDIP se Kecamatan Ciputat, Serpong, dan Ciputat Timur menyampaikan surat terbuka yang ditujukan kepada DPP PDIP,  melalui DPC PDIP Kota Tangerang Selatan, agar kader internal partai yang telah mengikuti penjaringan dan penyaringan (rekrutmen) calon walikota/wakil walikota Tangerang Selatan diprioritaskan untuk mendapatkan rekomendasi dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Elemen relawan yang sebagian besar pernah mendukung pemenangan Jokowi  pun  saat itu juga berbarengan menggelar petisi dukungan yang mereka sebut “Petisi Perjuangan Untuk Perubahan”  di Taman Kota 1, BSD. Intinya sama, menginginkan agar kader internal partai direkomendasi. Dalam catatan, berarti sudah enam dari tujuh kecamatan di Tangerang Selatan yang menggelar petisi meminta DPP merekomendasikan kader internal untuk maju dalam kontestasi Pilkada 2020 pada 9 Desember mendatang.

 “Ya, pagi ini kami dari tiga kecamatan menyampaikan surat terbuka dan memohon agar Ibu Ketua Umum memprioritaskan kader internal yang telah banyak memberikan jasa kepada partai mendapat prioritas untuk direkomendasikan dalam kontestasi Pilkada Tangsel 2020,” kata Sudirman, juru bicara perwakilan yang pernah menjabat Ketua Ranting Cempaka Putih, Ciputat Timur usai menyerahkan surat terbuka di Kantor Sekretariat DPC PDIP Tangsel, Senin (15/6/2020). Surat petisi diterima Wakil Ketua DPC PDIP Tangsel Rohidi Darmadi.

 Ajat Sudrajat, salah satu pengurus ranting Lengkong Gudang Barat, Kecamatan Serpong memohon kepada Ketua Umum agar aspirasi dari pengurus akar rumput ini didengar.

“Kami sadar, PDIP menerapkan sistem demokrasi terpimpin, dimana hak prerogatif di tangan Ibu Mega, untuk itu kami mohon kepada Ibu Mega untuk mengabulkan surat terbuka kami,”ujarnya.

 Hal senada seperti yang diungkapkan Duriat, Ketua Ranting Pondok Ranji, Ciputat Timur. “Untuk pilkada kali ini kami mohon agar kader internal yang diusung, ” kata Duriat.

“Kami trauma, jangan seperti  lima tahun lalu, dimana bukan kader internal yang diusung, melainkan ASN yang ‘dimerahkan’ yang akhirnya kalah berperang. Pilkada ini adalah kesempatan PDIP merebut kemenangan oleh kadernya sendiri, bukan kader kaleng-kaleng. Apalagi dalam amanat hasil Kongres V PDIP di Bali lalu memutuskan harus mengutamakan kader untuk diusung dalam Pilkada,” tambah Sudirman.

 “Suatu kebanggaan bagi kami, jika kader internal yang direkomendasikan. Jika tidak menang pun kami tetap merasa bangga. Kami nanti akan all out, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Biar gepeng tetap banteng, merdekaaa…,” sambung Benny Gaok, Satgas PDIP Rengas, Ciputat Timur yang juga ikut mengawal surat petisi tersebut.  Tampak hadir mendampingi penyerahan surat terbuka jajaran pengurus PAC yang lain, diantaranya Ketua PAC Ciputat, Marhadi.

 Pengamat Politik Adib Miftahul mengungkapkan, dia melihat Tangsel saat ini tengah hamil tua, yang sebentar lagi akan melahirkan pemimpin baru. Banyak yang berharap, pemimpin idaman adalah yang tidak ada hubungannya dengan dinasti. 

“Saya membaca, tuntutan para kader PDIP ini menginginkan sosok pemimpin yang diusung harus bebas dari kepentingan atau produk dinasti,” katanya.

 “Melihat banyaknya tuntutan dari kader seperti yang terjadi di tubuh PDIP, ini bisa diibaratkan seperti bisul, sudah mulai pecah. Harus secepatnya dicarikan obatnya, supaya tidak infeksi,” ujar Adib.

 Pengamat dari Universitas Trisakti Jakarta, DR. M Ichwan Hamzah menambahkan, biasanya kemenangan dalam pilkada berasal dari mesin partai yang bergerak.

“Untuk menggerakkan mereka, harus ada rasa percaya diri. Nah, percaya diri itu muncul dari rasa bangga. Biasanya rasa bangga sudah terpatri dalam diri kader-kader militan. Jika tuntutan mereka agar kader internal yang diusung, berarti partai membuka ruang rasa bangga kepada mesin partai,”katanya di Jakarta, kemarin.

Ichwan menambahkan, jika ingin menang dan solid di bawah, DPP harus peka melihat ini secara bijak dan mengikis habis gaya-gaya transaksional yang justru akan membunuh kemenangan dalam kontestasi pilkada. “Apalagi kalau ada mahar, ini jangan sampai terjadi, karena ini sumber petaka,”ujarnya. (*)