26, Oktober, 2020

Media Kreasi News

Sarana Komunikasi Dan Informasi Masyarakat

Munas Istimewa HPPMI di Bogor Tunjuk Ketum Periode 2020-2025

Bogor (MKnews)- Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Peternak dan Petani Milenial Indonesia (HPPMI) menghasilkan Aldi Supriyadi sebagai Ketua Umum HPPMI.

Acara yang digelar selama dua hari sejak 3 hingga 4 September berlangsung di Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

“HPPMI berangkat bukan dari kalangan akademisi atau lulusan fakultas bidang pertanian. HPPMI lahir dari anak yang kebanyakan dari petani. Tetapi mempunyai cita-cita agar indonesia kaya dari sektor pertanian dan peternakan,” kata Ketua Umum HPPMI Aldi Supriyadi kepada wartawan usai Munas istimewa ke 1 di Cisarua, Bogor.

Saat ini kata Aldi, HPPMI telah mempunyai 21 pengurus di tingkat provinsi di Indonesia. Dan dari Munas HPPMI pertama ini sudah bisa dikatakan sebagai organisasi tingkat nasional.

Kedepan, pengurusan di 34 provinsi yang tersebar di Indonesia akan segera dibentuk. Sehingga seluruh kepengurusan HPPMI di Indonesia bisa terpenuhi.

Aldi melanjutkan, Indonesia merupakan negara agraris. Agar berjalan maksimal pengurus HPPMI 2020-2025 nantinya menyiapkan rencana strategis nasional jangka pendek, menengah dan panjang.

“Ini untuk kemajuan para petani di Indonesia. Jadi berangkat bukan karena akal-akalan tapi murni untuk kemajuan sektor pertanian,” pungkas Aldi.

Dalam sambutan sesi zoom,  Ichsan Firdaus anggota Komisi IV DPR-RI mengatakan, terbentuknya HPPMI bisa menjawab sejumlah persoalan para petani.

Kedepan diharapkan bisa mensuport kebutuhan pangan nasional. Salah satu persoalan penting saat ini, kepemilikan lahan petani untuk berladang belum mencapai 2 hektar.

Ini merupakan standar jika petani agar sejahtera. Sehingga hasil panen petani Indonesia bisa menghidupkan keluarga secara maksimal.

“Lalu pengetahuan petani di kita belum maksimal. Pasalnya lantaran rata masih lulusan sekolah dasar (SD),” kata Ichsan.

Namun demikian kata politisi Partai Golkar ini, persoalan petani juga masih terbentur dengan permodalan.

“Munas HPPMI setidaknya bisa merumuskan tiga persoalan tadi.  Petani milenial bukan berada saat jaman kolonial. Mudah mudahan nantinya memiliki inovasi yang lebih baik. Kami di komisi IV mendukung,” pungkasnya. (rls/red)